Kamis, 31 Mei 2012

Pentingnya Partisipasi Politik Dalam Negara Demokrasi

Melihat Indonesia sebagai negara demokrasi, maka kita tidak dapat memisahkannya dengan unsur demokrasi itu sendiri: Rakyat. Dalam demokrasi dimana berlalu pepatah "Vox Populi Vox Dei", maka kedaulatan adalah kedaulatan tertinggi dalan negara demokratis. Rakyat adalah konstituen yang menjadi acuan dan tujuan kerja lembaga Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif. Yang menjadi pengetahuan umum adalah banyak berbagai kewajiban lembaga kepemerintahan atas hak-hak rakyatnya dalam negara demokrasi. Namun kita mungkin tidak terlalu sering mendengar mengenai kewajiban warna negara kepada negara selain membayar pajak. Dalam tulisan ini saya berusaha untuk menjelaskan mengenai salah satu kewajiban warga negara dalam suasana kehidupan politik yang demokratis dan urgensitasnya terhadap keberlangsungan negara itu sendiri: Partisipasi Politik.

Demokrasi
Demokrasi adalah salah satu sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat sebagai pimpinan tertinggi dalam proses penyelenggaraan negara. Rakyat, melalui pemilihan umum langsung ataupun tidak langsung, memilih wakilnya di parlemen dan memilih pemimpinnya di eksekutif (Presiden). Wakil dan pemimpin tersebut, karena terpilih oleh rakyat maka tanggungjawab tertingginya adalah kepada rakyat, bukan kepada partai (parlemen) ataupun parlemen (Presiden). Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dimana rakyat berhak untuk menutut hak-haknya kepada pemerintah tanpa ada restriksi atau pembatasan dari pihak-pihak berwenang.

Indonesia dalam statusnya sebagai negara demokrasi, secara idealnya menempatkan rakyat dalam posisi yang sangat krusial. Praktiknya, pemilu presiden dan pemilihan anggota parlemen RI selama 2 kali pemilu telah menerapkan pemilihan langsung, yang artinya presiden dan wakil-wakil rakyat di parlemen telah dipilih langsung secara individual oleh rakyat. Hal ini berarti rakyat telah mempunyai kedaulatan dan kekuasaan sedemikian besar karena punya hak untuk memilih seorang pimpinan tertinggi dalam suatu komunitas negara. Rakyat mempunyai efek yang sedemikian besar karena dia punya wewenang untuk menentukan bagaimana kualitas kepemimpinan di Indonesia. Rakyat adalah determinan utama yang menentukan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Tanggungjawab rakyat secara final dalam pemerintahan adalah bahwa rakyat bertanggungjawab atas dirinya sendiri, lingkungannya, kondisi negara saat ini dan kondisi negara dimasa mendatang.

Partisipasi Politik
Miriam Budiarjo mendefinisikan Partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan negara dan, secara langsung atau tidak langsung, mempengaruhi kebijakan pemerintah. Secara sederhana dapat kita mengerti bahwa aktivitas seseorang dalam memilih presiden ataupun anggota parlemen adalah salah satu bentuk partisipasi politik: Sederhana namun sangat berpengaruh. Bergabung dengan parpol dan menyuarakan opininya dalam partaipun juga sudah masuk kedalam kategori partisipasi politik karena partai politik lah yang mempunyai kewenangan untuk merubah kebijakan pemerintah ditingkat parlemen.

Di Indonesia, partisipasi politik masyarakatnya masih cenderung rendah. Pada tingkat pemudanya bahkan mulai terbentuk stigma untuk bersikap apatis pada partai politik. Prof. Komar Hidayat (Rektor UIN) pernah berkata bahwa banyak mahasiswa-mahasiswa terbaik negeri ini justru menghindar dari partai politik. Ini bukan sembarang omong: beberapa kawan saya yang paling cerdas, walaupun memiliki kecerdasan untuk memahami problematika negeri ini secara politis, namun menolak dan menjauhi segala kegiatan yang berhubungan dengan politik, termasuk ikut terlibat dalam kegiatan parpol. Merekapun cenderung golput dalam pemilu, baik itu pemilihan caleg, presiden ataupun kepala daerah (gubernur). Khusus untuk apatisme dalam pemilu (golput) ini akan saya bahas lebih lanjut.

Sikap golput oleh kalangan terpelajar sangat berbahaya bagi keberlangsungan NKRI ini sendiri. Saat wakil-wakil rakyat dan pemimpin rakyat yang berkuasa adalah pilihan orang-orang tidak berilmu, maka kualitas yang terpilihpun akan diragukan. Demokrasi akan menggerogoti negeri ini secara perlahan-perlahan dari dalam dirinya sendiri, seperti kanker. Demokrasi yang dipimpin oleh manusia berkualitas rendah dan bodoh hanya akan membawa suatu output paradox: Demokrasi yang seharusnya bisa membawa kesejahteraan justru akan menjadi pembawa penderitaan bagi rakyat.

Sebagai contoh, mari kita ambil salah satu pemimpin di Indonesia, katakanlah Mr. X (nama disamarkan). Mr. X ini terpilih dengan "prestasi" pemilu yang cukup "membanggakan", yakni 40% lebih dari DPT  (daftar pemilih tetap) tidak memilih salah satu calon, entah itu karena tidak hadir di TPU, suara tidak sah atau kesalahan teknis. Angka golput yang sangat tinggi ini kini bisa dirasakan oleh rakyatnya sendiri: kinerja Mr. X yang tidak jelas, wilayah kekuasaannya yang kondisinya makin berantakan, korupsi dan lain-lain sehingga seakan-akan Mr.X ini tidak pernah benar-benar mengurusi wilayah kekuasaannya. Penyesalan rakyat yang kemudian datang karena secara tidak langsung telah memilih Mr.X (karena golput) tiada guna karena Mr. X harus menyelesaikan masa baktinya dahulu dan selama itu juga wilayah ini akan selalu berantakan. Perlu dicatat bahwa 40% golput ini didominasi oleh mereka yang punya pendidikan relatif tinggi (Perguruan tinggi). Ini artinya, orang-orang terpelajar dari wilayah ini justru banyak yang tidak memanfaatkan kecerdasan dan wawasannya untuk memilih pemimpin yang berkualitas. Justru orang-orang dengan pendidikan relatif rendahlah yang banyak memanfaatkan hak pilihnya.

Contoh diatas menunjukkan kepada kita bahwa Golput tidak membawa suatu kebaikan apapun bagi kita sendiri. Kita mungkin bisa skeptis kepada kualitas calon pemimpin, tapi skeptisme itu justru akan memperparah keadaan jika memilih netral alias golput. Apalagi jika skeptisme dan apatisme itu didominasi justru oleh kaum intelektual, maka masa depan negara ini hampir pasti menuju kehancuran. Kenapa? Karena kaum intelektual adalah kelompok masyarakat yang mampu menilai secara objektif dan ilmiah terhadap calon-calon pemimpin yang bertarung dalam pemilu. Wawasan kaum intelektual yang luas dapat memberikan keuntungan tak terhingga dalam memasukkan variabel-variabel objektif untuk penilaian sang pemimpin. Kaum intelektual juga dirasa lebih objektif, sehingga sentimen-sentimen subjektif dan emosional dalam memilih seorang calon pemimpin dalan dieliminasi semaksimal mungkin. Seseorang yang berpendidikan tinggi tidak akan mudah terjebak dalam isu-isu sepele, rasial atau bahkan berbau SARA. Seseorang yang berpendidikan tinggi juga lebih kecil kemungkinannya untuk terbujuk oleh money politic ketimbang seseorang yang berpendidikan rendah.

Disinilah ironinya, banyak kawan-kawan saya yang cerdas dan berpendidikan tinggi justru apatis dengan partisipasi politik paling sederhana seperti ini. Mereka apatis karena mereka merasa tidak paham dengan politik dan skeptis dengan semua calon yang ada. Entah karena belum dewasanya kita dalam berdemokrasi atau mungkin karena alasan lain, namun sikap seperti ini bukanlah sikap yang menggambarkan kodrat rakyat dalam kehidupan berdemokrasi. Sikap apatisme terhadap proses pemilu justru menunjukkan ketidakdewasaan atau malah mungkin keseganan kita untuk hidup dalam negara demokratis. Nihilnya partisipasi politik kita dalam negara demokrasi sama saja dengan mengarahkan negara ini menuju Mobokrasi dan akhirnya terjebak kembali dalam rezim yang bersifat diktator.

Saat kita menuntut untuk hidup dalam suasana yang demokratis dengan sistem pemerintahan demokrasi (seperti yang termanifestasikan dalam reformasi '98), maka otomatis sudah menjadi kewajiban kita untuk turut membangun sistem ini. Demokrasi tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya partisipasi rakyat. Demokrasi adalah superstructure yang harus ditopang oleh substructure, yaitu rakyat. Jika substructure itu rapuh (banyak rakyat yang apatis), maka demokrasi itu sendiri juga akan rapuh atau bahkan ambruk.

1 komentar:

  1. izin mengutip tulisan anda untuk menambah penuliasan artikel saya pada koran :)

    BalasHapus